Selamat! Kamu baru saja menyelesaikan sidang skripsi dan satu beban berat sudah terangkat. Namun, biasanya setelah euforia kelulusan mereda, muncul satu pertanyaan besar yang bikin galau. Pilihan antara lanjut S2 atau kerja memang sering kali membuat fresh graduate merasa dilema dalam menentukan langkah selanjutnya.
Sebelum terburu-buru mengambil keputusan, ada baiknya kamu duduk sejenak untuk menghitung untung rugi serta kesiapan finansialmu. Jangan sampai salah langkah di awal karier. Yuk, simak panduan lengkap berikut ini untuk membantu kamu menemukan opsi terbaik!
Dilema Fresh Graduate: Kejar Gelar Master atau Pengalaman Kerja?
Sebenarnya, pertanyaan ini tidak memiliki jawaban benar atau salah. Semuanya kembali pada visi dan tujuan karier yang ingin kamu capai. Jika cita-citamu adalah menjadi seorang akademisi, dosen, atau peneliti, maka keputusan untuk lanjut S2 segera setelah lulus S1 adalah langkah tepat. Ini akan membantumu menjaga momentum belajar yang masih hangat.
Di sisi lain, jika tujuan utamamu adalah menjadi praktisi di industri kreatif atau korporasi, pengalaman kerja sering kali memiliki nilai tawar yang lebih tinggi dibandingkan sekadar gelar akademis. Bekerja terlebih dahulu bisa memberikan gambaran nyata tentang dunia profesional, memperluas networking, dan tentunya memberikan penghasilan. Uang hasil kerja ini nantinya bisa kamu tabung sebagai modal biaya studi lanjut yang lebih matang di masa depan.
Cek Ombak Biaya Kuliah S2 di Dalam vs Luar Negeri
Harus diakui, faktor finansial sering menjadi penentu utama dalam memilih antara lanjut S2 atau kerja. Biaya kuliah S2 di dalam negeri tentu relatif lebih terjangkau dibandingkan universitas di luar negeri. Namun, pengalaman hidup dan wawasan global yang ditawarkan kampus mancanegara memang memiliki daya tarik tersendiri.
Sebagai gambaran awal, biaya S2 di universitas negeri favorit di Indonesia biasanya berkisar antara Rp10 juta hingga Rp25 juta per semester. Sementara itu, jika kamu membidik kuliah di negara seperti Inggris atau Australia, biayanya bisa melonjak hingga ratusan juta rupiah per tahun. Ingat, angka ini belum termasuk biaya visa dan asuransi kesehatan yang wajib kamu miliki.
Biaya hidup di perantauan yang sering lupa dihitung
Selain uang pangkal dan biaya semester, kamu juga perlu cermat memperhitungkan biaya hidup atau living cost. Banyak orang terlalu fokus pada tuition fee hingga lupa bahwa biaya sewa tempat tinggal, makan, dan transportasi di negara maju bisa sangat menguras tabungan.
Pastikan kamu melakukan riset mendalam mengenai indeks biaya hidup di kota tujuanmu. Jangan sampai studi kamu terganggu di tengah jalan hanya karena perhitungan finansial yang kurang detail.
Strategi Mencari Beasiswa vs Biaya Mandiri
Jika biaya dirasa menjadi kendala besar, beasiswa adalah jalan keluar yang paling ideal. Saat ini, opsi beasiswa penuh sangat beragam, mulai dari LPDP, Chevening, hingga AAS. Meski begitu, kamu perlu siap mental karena persaingannya sangat ketat dan proses seleksinya memakan waktu yang tidak sebentar.
Sebaliknya, jika kamu memilih jalur biaya mandiri, kamu memiliki kebebasan penuh untuk memilih kampus dan jurusan tanpa terikat kontrak pengabdian setelah lulus. Strategi terbaik untuk jalur ini adalah bekerja terlebih dahulu selama 2 hingga 3 tahun untuk mengumpulkan modal. Dengan cara ini, kamu bisa kuliah dengan perasaan tenang tanpa harus membebani orang tua.
Menyusun Roadmap Tabungan Pendidikan Lanjutan dalam 2 Tahun
Apabila kamu memutuskan untuk bekerja dulu demi mengumpulkan dana S2, kamu memerlukan strategi menabung yang disiplin. Mari kita asumsikan kamu memiliki waktu persiapan selama 2 tahun (24 bulan) untuk mengumpulkan dana tersebut.
Langkah pertamanya adalah meriset total biaya yang dibutuhkan saat ini. Setelah itu, tambahkan sekitar 10% hingga 15% dari total tersebut untuk mengantisipasi inflasi dana pendidikan yang terus naik setiap tahunnya. Angka akhir inilah yang akan menjadi target finansial kamu.
Target nominal dibagi 24 bulan
Mari kita buat simulasinya. Misalnya, kamu membutuhkan dana sebesar Rp100 juta untuk S2 di dalam negeri. Artinya, kamu harus menyisihkan sekitar Rp4,2 juta per bulan secara konsisten selama 2 tahun.
Jika uang ini hanya disimpan di rekening tabungan biasa, nominal tersebut mungkin terasa berat dan nilainya berisiko tergerus inflasi. Oleh karena itu, kamu membutuhkan instrumen keuangan yang bisa membantu dana tersebut bertumbuh lebih optimal.
Kembangkan Dana Pendidikan di Reksa Dana via Aplikasi OCTO
Menabung secara konvensional saja mungkin tidak cukup cepat untuk mengejar kenaikan biaya pendidikan. Kamu bisa memanfaatkan instrumen investasi seperti reksa dana yang kini sangat mudah diakses oleh pemula sekalipun.
Berbeda dengan tabungan biasa, reksa dana menawarkan potensi imbal hasil yang lebih menarik, terutama untuk jangka waktu menengah seperti 2 tahun. Kabar baiknya, kamu bisa mulai perjalanan investasimu dengan sangat praktis melalui aplikasi OCTO.
Berikut adalah keuntungan menyiapkan dana pendidikan lewat aplikasi OCTO:
-
Terjangkau: Tidak perlu modal besar, kamu bisa mulai berinvestasi dari Rp10.000 saja. Sangat cocok untuk fresh graduate yang baru mulai menata keuangan.
-
Likuid: Dana investasi ini bisa dicairkan kapan saja saat kamu membutuhkannya untuk membayar uang masuk kuliah nanti.
-
Praktis: Semua prosesnya serba digital. Mulai dari pendaftaran, pembelian, hingga pemantauan portofolio bisa dilakukan dalam satu genggaman tanpa perlu repot ke kantor cabang.
Kesimpulan
Memilih antara lanjut S2 atau kerja memang membutuhkan pertimbangan yang matang, baik dari sisi pengembangan karier maupun kesiapan dompet. Jika kamu memilih untuk bekerja sambil mengumpulkan biaya studi, pastikan kamu memiliki strategi investasi yang tepat. Dengan perencanaan yang baik, mimpi meraih gelar master bisa terwujud tepat pada waktunya.
Siapkan dana pendidikan S2 kamu mulai hari ini! Download aplikasi OCTO sekarang dan mulai investasi reksa dana dengan mudah dan terjangkau demi masa depan yang lebih cerah.




